Oleh: Prof Dr H Munawir Kamaluddin MA MH ( Direktur Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial Ekonomi Nusantara/ LAPSENUSA)
Ada satu kesombongan halus yang kadang hadir tanpa namanya sempat kita sadari, kesombongan yang muncul dalam hati ketika kita memandang rendah seseorang.
Kita melihat seseorang dari tampilan luarnya, dari kesederhanaannya, dari pekerjaannya, dari kesulitannya, lalu batin kita bergumam bahwa dialah yang “di bawah”.
Seolah-olah hidup akan selamanya menempatkan kita di atasnya.
Namun hidup bukan garis lurus, melainkan lingkaran yang terus berputar.
Al-Qur’an mengingatkan manusia dengan tegas,
وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ
“Hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140)
Apa yang tampak kuat hari ini bisa rapuh esok hari.
Dan apa yang tampak lemah di hadapanmu hari ini mungkin sedang memperkokoh akarnya untuk bangkit lebih tinggi besok.
Setiap manusia berjalan di lintasan takdirnya masing-masing. Ada yang melejit tiba-tiba. Ada yang harus menunduk lama sebelum mampu berdiri tegak. Ada yang harus jatuh dulu berulang-ulang agar kelak ia berdiri di puncak dengan lebih bijaksana dan mampu mengayomi.
Karena itu, siapa kita hingga berani meremehkan seseorang hanya berdasarkan bab kecil dari kisah hidupnya yang panjang?
Rasulullah SAW. memperingatkan keras kesombongan dalam merendahkan sesama,
“بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ”
Cukuplah seseorang dianggap buruk apabila ia merendahkan saudaranya. (HR. Muslim).
Saat kita meremehkan orang lain, sesungguhnya kita sedang memperolok ketetapan Allah atas orang itu pada saat itu. Kita merendahkan keputusan Tuhan yang menempatkannya di fase yang belum selesai. Bukankah itu bentuk arogansi seorang hamba?
Padahal Allah mengingatkan,
نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ
“Kami telah menentukan jalan-jalan hidup di antara kalian.” (QS. Al-Waqi’ah: 60).
Yang hari ini tampak kecil, mungkin sedang disiapkan menjadi besar.
Yang tampak biasa, mungkin sedang menabung kebijaksanaan. Yang tampak gagal, boleh jadi sedang berlatih untuk menjadi contoh keberhasilan terbesar.
Dalam dunia yang bergerak cepat, manusia terlalu cepat menghakimi dan terlalu lambat memahami. Kita lupa bahwa setiap orang menyimpan dunia di dalam dirinya, impian, luka, doa, proses, harapan, perjuangan sunyi yang tak pernah terdengar oleh telinga kita.
Mereka yang tampak tidak berarti hari ini mungkin sedang menata langkah menuju lompatan yang akan mengejutkan dunia.
Ulama besar Ibnu Qayyim pernah mengingatkan,
“مَا ضُرِبَ عَبْدٌ بِعُقُوبَةٍ أَعْظَمَ مِنْ قَسْوَةِ الْقَلْبِ”
Tidak ada hukuman yang lebih berat bagi seorang hamba dibanding hati yang keras.
Dan salah satu ciri hati yang keras adalah merasa diri terlalu tinggi untuk menghargai orang lain.
Lihatlah Umar bin Khattab, dulu membenci Rasulullah, suatu hari menjadi pemimpin umat dan orang yang ditakuti syaitan. Siapa mampu menebak masa depannya jika hanya menilai dari masa lalunya?
Lihatlah pecundang-pecundang sejarah yang berubah menjadi pahlawan besar, mereka membuktikan bahwa Allah selalu mempunyai cara mengejutkan dalam menulis kisah manusia.
Rasulullah SAW. pun menegaskan standar Ilahi:
“إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ”
Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian. (HR. Muslim).
Jika Allah saja menilai hati dan usaha manusia, mengapa kita menilai dengan pakaian, pencapaian, atau keadaan sementara?
Ali bin Abi Thalib mengukuhkan pesan kemanusiaan:
“الناس صنفان: إمّا أخٌ لك في الدِّين، أو نظيرٌ لك في الخلق”
Manusia itu dua macam: saudaramu seiman, atau saudaramu dalam kemanusiaan.
Maka memuliakan sesama bukan sekadar adab, tapi tanda akhlak tertinggi. Dan merendahkan sesama bukan hanya dosa, tapi bukti dangkalnya pemahaman hidup.
Sungguh, tidak ada kehinaan yang lebih memalukan daripada hati yang merasa tinggi padahal ia menapak di tanah yang sama, menghirup udara yang sama, berada di bawah langit yang sama, dan bergantung pada Tuhan yang sama.
Dan kelak ketika hidup berputar, sebagaimana selalu ia putar, kau akan bersyukur bahwa kau tidak pernah menertawakan mereka yang jatuh, karena bisa jadi mereka lah yang akan menolongmu berdiri nanti.
Pada akhirnya, kehidupan tidak mengajarkan kita untuk menjadi lebih tinggi dari orang lain,melainkan menjadi lebih rendah hati dari hari kemarin.
Sebab semakin tinggi seseorang di hadapan manusia, semakin rendah ia harus meletakkan dirinya di hadapan Tuhan.
Dan ingatlah, bahwa orang yang kita pandang rendah hari ini, mungkin akan menjadi orang yang kita hormati besok.
Sedangkan kesombongan kita hari ini, mungkin menjadi penyesalan terdalam kita kelak.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏*MK*
*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Fakir Munawir Kamaluddin*
