”JANGAN SOK MENANG, SEMESTA TIDAK DIAM: Luka Orang Lain, Kuburan Diri Sendiri”

4
Dengarkan Versi Suara

Oleh: Prof Dr H Munawir Kamaluddin MA MH ( Direktur Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial Ekonomi Nusantara/ LAPSENUSA)

Pernahkah kita berpikir, mengapa sebagian manusia tampak begitu gagah, bukan ketika membangun, tetapi ketika meruntuhkan?

Mengapa ada yang merasa mulia bukan karena amal, tetapi karena mampu menginjak martabat orang lain?

Dan sejak kapan kemenangan ditakar dari air mata yang jatuh, bukan dari akhlak yang terjaga?

Ungkapan tanya diatas ini menggantung di langit kehidupan kita seperti awan gelap yang menunggu hujan.

Seolah-olah manusia lupa bahwa di balik semua peristiwa yang tampak biasa, semesta menyimpan ingatan yang tak pernah pudar.

Karena sungguh, ketika seseorang bangga setelah menyakiti, ia sesungguhnya tidak sedang naik, tetapi perlahan menggali lubang kejatuhannya sendiri.

Manusia sering terjebak pada fatamorgana kemenangan. Hari ini ia tertawa tinggi, merasa berjaya karena kata-katanya menggores hati seseorang, atau tindakannya membuat orang lain jatuh.

Ia melangkah dengan dada membusung, yakin bahwa kekuatan ada di pihaknya. Namun ia lupa satu hal bahwa Semesta tidak pernah tidur.

Allah telah menjelaskan prinsip kehidupan ini dengan bahasa yang tak bisa dibantah:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
“Dan jangan kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.”(QS. Ibrahim: 42).

Ayat ini adalah pengingat keras, bahwa setiap kata yang melukai, setiap sikap yang merendahkan, dan setiap rencana yang menutup pintu bagi orang lain, tidak pernah benar-benar hilang di udara.

Ia tercatat, terkumpul, dan akan kembali, seperti gelombang yang selalu menemukan pantainya.

Rasulullah SAW. bahkan memberi peringatan yang lebih menohok:
اتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب
“Takutlah pada doa orang yang terzalimi, karena tidak ada tirai antara doa itu dan Allah.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Betapa banyak manusia yang tampak menang di permukaan, tetapi dihancurkan oleh bisik doa yang lirih, oleh air mata yang jatuh tanpa suara, oleh hati yang retak sambil menyebut nama Tuhannya.

Jika seseorang merasa puas karena berhasil merendahkan orang lain, sebenarnya ia sedang memperkecil dirinya sendiri.Ia mengira sedang berdiri di puncak; namun puncak itu ternyata di atas jurang.

Sebab yang ia bangun bukan penghargaan, melainkan karma dalam istilah manusia, qadar dalam bahasa langit.

Ali bin Abi Thalib RA. mengingatkan:
“يوم المظلوم على الظالم أقسى من يوم الظالم على المظلوم.”
“Hari ketika si terzalimi membalas lebih dahsyat daripada hari ketika si zalim menzalimi.”

Betapa dalam maknanya. Hari ini mungkin kau tertawa, dan orang yang kau sakiti menangis. Tapi besok, saat keadaan berbalik, tangismulah yang terdengar paling keras.

Al-Ghazali menambahkan tajam:
“من زرع شرا حصد ندما.”
“Barangsiapa menanam keburukan, ia akan memanen penyesalan.”

Karena hidup ini bukan sekadar tentang siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang lebih tulus menjaga hak manusia lain. Jika manusia mengira semesta membiarkan kezaliman, ia hanya menunda hukuman.

Sebab sunnatullah bekerja dengan cara yang tenang, mengembalikan apa yang ditanam, melipatgandakan apa yang diberikan (baik kebaikan, maupun keburukan).

Di ujung perjalanan, kita akan sadar bahwa kebanggaan paling tinggi bukanlah ketika kita mampu menjatuhkan seseorang, tetapi ketika kita mampu berjalan jauh tanpa menyingkirkan siapa pun.

Dan bahwa pemenang sejati bukanlah yang menyisakan luka pada langkahnya, melainkan yang meninggalkan jejak kasih dan kemuliaan.

Allah menutup semuanya dengan pesan yang menenangkan sekaligus menegaskan:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan balasan orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. At-Taubah: 120).

Jika keburukan kembali kepada pelakunya, maka kebaikan pun demikian, ia selalu menemukan jalannya pulang.

Maka berhentilah merasa menang ketika membuat orang lain kalah, itu bukan kemenangan, itu keruntuhan yang tertunda.

Jangan bangga ketika berhasil menyakiti, karena itu bukan kehebatan, tetapi kemiskinan jiwa yang sedang menelanjangi dirinya sendiri.

Dan ketahuilah, bila semesta tampak diam, itu karena ia sedang menata cara membalikkan keadaan, tepat waktu, tepat sasaran, tanpa pernah meleset.

Pada akhirnya, kemenangan hanya milik mereka yang menjunjung martabatnya sendiri tanpa menjatuhkan martabat siapa pun.

Dan kehormatan hanya diberikan kepada mereka yang memilih halusnya akhlak daripada kerasnya ego.

Sebab luka orang lain bisa menjadi kuburan diri sendiri, tetapi doa orang yang kau bahagiakan bisa menjadi rumahmu di dunia dan akhirat.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏*MK*

*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Fakir. Munawir Kamaluddin*