”SENGKARUT TANPA AKHIR: Ketika Masalah Tak Lagi Mencari Solusi”

7
Dengarkan Versi Suara

Oleh: Prof Dr H Munawir Kamaluddin MA MH ( Direktur Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial Ekonomi Nusantara/ LAPSENUSA)

Ada satu pertanyaan yang selalu menggantung di udara rumah-rumah yang retak tetapi enggan roboh, Mengapa ada keluarga yang bertahun-tahun hidup dalam konflik yang tak pernah menemukan senjanya?

Mengapa perdebatan menemukan bahan bakar baru setiap hari, bahkan ketika mulut telah lelah bicara?

Mengapa doa terasa terhalang di langit, dan usaha mendamaikan hati selalu berujung pada luka yang sama?

Dan pertanyaan paling getir, apakah mungkin bahwa konflik yang tak selesai itu bukan lagi hanya urusan manusia, melainkan ketukan halus dari Sang Pengatur semesta?

Ada keluarga yang tidak kekurangan ilmu atau nasihat. Ada rumah yang dipenuhi ayat di dinding, tetapi menghilangkan ayat dalam perilaku.
Ada lisan yang menyebut nama Allah, tetapi tangan yang menahan hak orang lain tanpa malu.

Di sanalah misteri mulai terbuka. Sering kali akar konflik tidak terletak pada apa yang diperdebatkan hari ini, tetapi pada dosa-dosa sosial yang dilakukan jauh di luar pintu rumah, kepada tetangga yang dizalimi, sahabat yang dilukai, atau hak orang yang ditahan dan tidak dikembalikan.

Zalim tidak selalu berwujud pukulan atau penghinaan keras. Kadang ia menyamar sebagai ketidakjujuran kecil, janji yang sengaja tidak ditepati, atau hak yang ditahan diam-diam demi kenyamanan diri.
Allah telah mengingatkan:
وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ
“Dan janganlah kamu mengurangi hak-hak orang lain.”(QS. Hud: 85).

Ayat ini bukan hanya bicara timbangan di pasar. Ia berbicara tentang hak, tentang keadilan, tentang kejujuran sosial. Sebab kezhaliman, sekecil apa pun, bukanlah peristiwa lokal, ia adalah api yang merambat, dan kadang merambat kembali ke rumah pelakunya dalam bentuk konflik batin, hubungan yang retak, atau keluarga yang tak pernah selesai bertikai.

Bukankah Nabi SAW. memperingatkan:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ
“Jauhilah kezaliman, karena kezaliman menjadi kegelapan pada hari kiamat.”(HR. Muslim).

Kegelapan itu tidak selalu menunggu hari akhir, ia dapat merayap masuk ke ruang tamu keluarga, membutakan nalar, menutup pintu akal sehat, dan mengunci hati dalam amarah.

Ada keluarga yang kehilangan kedamaiannya bukan karena masalah ekonomi atau watak keras semata, tetapi karena dosa yang tidak dibereskan, Karena hak orang yang tidak dikembalikan, Karena kezaliman yang terbangun dari masa lalu, Karena tangan yang enggan meminta maaf, dan kaki yang enggan melangkah menuju pemilik hak yang dirampas.

Dalam pandangan ulama, kezhaliman bukan hanya dosa horizontal antar-manusia. Ia membawa konsekuensi kosmik.
Sayyidina Ali RA. pernah berkata:
“مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ، وَلَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ”
“Tidaklah musibah turun kecuali karena dosa, dan tidaklah ia diangkat kecuali dengan taubat.”

Dan Imam Ibn Taymiyyah menambahkan kedalaman maknanya,
“حقوق العباد لا تسقط بالتقادم ولا تُغفر إلا بأدائها أو مسامحتهم.”
“Hak manusia tidak gugur hanya karena waktu berlalu; ia tidak akan hilang kecuali dikembalikan atau dimaafkan.”

Maka ada keluarga yang ribut bukan karena tabiat, tetapi karena ada hak orang di luar keluarga yang masih terikat pada mereka.

Dan Allah, dengan segala keadilan dan kasih sayang-Nya membiarkan konflik tumbuh sebagai peringatan, sebagai teguran lembut yang semakin keras karena tidak juga didengar.

Sering kali manusia keliru menyangka masalah berlarut-larut sebagai takdir buruk semata, padahal ia adalah pembuka pintu taubat.

Konflik yang tidak kunjung selesai bisa jadi tanda bahwa Allah masih mencintai manusia itu, karena Ia masih sudi menegur, bukan membiarkan.

Keluarga sering salah membaca peta, Mereka menyalahkan perbedaan karakter, kondisi ekonomi, atau kesalahan komunikasi.

Padahal akar luka lebih dalam dari itu, ego yang membatu, kesombongan yang menolak merunduk, lidah yang akrab berdusta, dan hati yang belum rela membayar utang moral kepada manusia.

Allah mengingatkan dengan kalimat tegas:
“إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ”
“Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang zalim.”
(QS. Ali Imran: 57).

Kalimat yang terdengar sederhana, tetapi bisa menjadi pedang bagi kehidupan kita.Maka sungguh, konflik keluarga bisa menjadi isyarat dari langit yang berkata:
“Kembalikan hak yang bukan milikmu, Lengkapi janji yang kamu patahkan, Tebus luka yang kau tinggalkan di hati orang lain.”

Dan ketika itu dilakukan, ketika hak dikembalikan, maaf dimohonkan, ego ditundukkan, dan dosa diselesaikan, seringkali misteri mereda.

Awan yang gelap perlahan pecah, dan matahari yang selama ini tidak tampak kembali menembus celah.
Karena Allah telah menjanjikan:
“وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ”
“Dan Allah tidak akan mengazab mereka selama mereka beristighfar.”
(QS. Al-Anfal: 33)

Istighfar bukan hanya kata di bibir. Ia adalah gerak jiwa dan tubuh, mengaku salah kepada Allah,
dan menuntaskan salah kepada manusia.

Maka mungkin inilah waktunya keluarga berhenti bertengkar dengan sesama anggota rumah, dan mulai mengaudit diri terhadap orang-orang di luar pintu, mereka yang haknya diremehkan, yang janjinya ditunda, atau doanya menyertai kepiluan.

Sebab konflik rumah tangga kadang hanya dapat diselesaikan dengan langkah yang keluar dari rumah menuju manusia yang haknya pernah kita renggut.

Dan pada detik itulah, keadilan Allah bukan lagi cambuk hukuman, tetapi pintu rahmat.Semoga Allah memberi kita keberanian untuk mengakui kesalahan, kerendahan hati untuk meminta maaf, dan kekuatan untuk mengembalikan apa yang bukan milik kita.

Karena damai di rumah tidak mungkin tumbuh jika di luar sana ada jiwa yang masih menangis karena kita.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏*MK*

*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Fakir. Munawir Kamaluddin*