”MENEPI: Melukis Inspirasi Dalam Panorama Sunyi.”

32
Dengarkan Versi Suara

Oleh: Prof Dr H Munawir Kamaluddin MA MH ( Direktur Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial Ekonomi Nusantara/ LAPSENUSA)

Apakah kesunyian adalah kekosongan, ataukah ia sebenarnya ruang luas tempat suara-suara terdalam berbicara tanpa terganggu?

Mengapa manusia begitu sering terjebak dalam kebisingan, seolah-olah keramaian adalah obat bagi setiap gelisah dan hiruk pikuk dunia?

Apakah kita takut bahwa dalam diam, kita akan bertemu dengan diri sejati yang selama ini bersembunyi di balik topeng peran dan tuntutan sosial?

Sejumlah pertanyaan diatas, menggugah kita menoleh kembali pada hakikat sebuah perjalanan batin, yakni perjalanan yang tidak selalu diarungi dengan langkah kaki, melainkan dengan keberanian untuk memasuki wilayah sunyi dalam diri.

Menepi bukanlah melarikan diri dari realitas, melainkan menjemput kesadaran yang kerap tercecer dalam hiruk-pikuk kehidupan.

Sunyi bukan ruang gelap tanpa gema, tetapi laboratorium jiwa tempat gagasan yang berserakan dikumpulkan kembali, niat yang pudar disemir ulang, dan identitas diri dipulihkan satu per satu.

Dalam diam, seseorang menemukan dirinya bukan sebagai serpihan peran, melainkan sebagai pribadi utuh yang memikul amanah hidup.

Allah mengabadikan ritme jiwa itu dalam firman-Nya:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6).

Kesunyian menganugerahkan jeda, yang dengannya kita mampu melihat bukan hanya apa yang sedang terjadi, tetapi juga apa yang seharusnya terjadi.

Rasulullah SAW. memberi petunjuk yang nyaris mustahil dipelajari di tengah kebisingan dunia:
رَحِمَ اللهُ امْرَأً عَرَفَ قَدْرَ نَفْسِهِ
“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengetahui batas dan kemampuan dirinya.”(HR. Al-Bayhaqi).

Dan diri tak mungkin dikenali tanpa mendengar suara hati sendiri, suara yang hanya terdengar ketika keramaian dijeda dan kegaduhan ditundukkan.

Menepi adalah fase pengendapan, sebagaimana Darul Arqam bagi para sahabat di masa awal Islam, kamar sunyi tempat iman dikokohkan, wacana disaring, dan rencana perjuangan disusun dengan penuh kesadaran.

Berbeda dengan asumsi sebagian orang yang salah kaprah memahami diam sebagai pasrah, menepi justru memberi ruang untuk menyusun gerak dengan kepala dingin dan hati jernih.

Ibnu Atha’illah mengingatkan:
مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْءٌ مِثْلُ عُزْلَةٍ يَدْخُلُ بِهَا مَيْدَانَ فِكْرَةٍ
“Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati selain khalwat (menyendiri) yang memasukkannya dalam medan perenungan.”(Al-Hikam).

Menepi dalam kesunyian, pada hakikatnya, adalah ruang luas untuk mengkonsolidasikan segala hal yang selama ini tercerai, identitas yang retak oleh tuntutan peran, gagasan yang berterbangan oleh kesibukan yang bersifat reaktif, dan niat yang terkontaminasi tepuk tangan dan pandangan manusia.

Sunyi menyatukan semua serpihan itu menjadi pribadi yang kembali utuh, yang siap menanggung makna dan merancang masa depan.

Dalam kesunyian, seseorang menginventarisasi dirinya, apa yang harus dibuang, apa yang perlu dipertahankan, apa yang layak diperjuangkan.

Ia dapat menyusun langkah dengan lebih sistematis, karena tidak lagi didikte emosi sesaat. Ia mulai melihat dunia bukan sebagaimana orang bising menggambarkannya, tetapi sebagaimana akal, pengalaman, dan iman menuntunnya.

Dari sunyi itulah lahir kesanggupan untuk merancang gerakan yang lebih matang, lebih realistis, lebih terukur, dan lebih berkelanjutan.

Sebab aksi terbaik bukanlah aksi yang paling keras teriakan atau paling banyak sorot kamera, tetapi aksi yang tumbuh dari akar yang telah dalam, akar yang dibenamkan jauh di tanah hening sebelum batang menjulang ke langit.

Menepi membebaskan seseorang dari tipuan ketergesaan, menyembuhkan luka batin yang selama ini diabaikan, dan menghadirkan kejelasan tentang arah.

Ia bukan penghentian langkah, tetapi perhentian sementara untuk memastikan bahwa langkah berikutnya menuju tempat yang benar.

Sunyi adalah ruang untuk bernapas setelah berlari terlalu jauh dan ruang untuk mencuci pandangan setelah tertutup debu dunia.

Dalam keheningan, kita dapati suara yang selama ini ingin didengar tetapi kalah oleh bising luar:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”(QS. Ar-Ra’d: 28).

Menepi memperbarui hubungan kita dengan Sang Pencipta, sekaligus dengan diri kita sendiri. Dari situ terbit keberanian untuk kembali ke tengah gelanggang kehidupan bukan sebagai sosok yang goyah, tetapi sebagai pribadi yang telah selesai dengan dirinya.

Sekali lagi, bukan sebagai bayangan, tetapi sebagai cahaya yang menyinari jalan yang dipilihnya.

Pada akhirnya, menepi bukanlah kontradiksi dari bergerak. Ia adalah anak tangga yang tidak terlihat dalam pendakian.

Ia adalah jeda yang memungkinkan napas panjang sebelum lompatan. Ia adalah tempat pulang sebelum mengarungi dunia sekali lagi.

Dan mereka yang telah merasakan keajaiban sunyi memahami bahwa ada waktunya manusia berada di tengah arus, tetapi ada saatnya pula ia menepi agar tahu ke mana ia hendak mengarunginya.

Karena dari sunyi, kelak seseorang akan kembali, bukan dengan langkah ragu, melainkan dengan langkah yang tahu tujuan, dan hati yang penuh cahaya.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏*MK*
*SEMOGA BERMAGAAT*
*Al-Fakir. Munawir Kamaluddin*