”Teheran Mengguncang Garang, Tel Aviv Defensif Pasif”

Dengarkan Versi Suara

Oleh: Prof Dr H Munawir Kamaluddin MA MH ( Direktur Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial Ekonomi Nusantara/ LAPSENUSA)

Ada momen dalam sejarah ketika sebuah bangsa dipaksa memilih, tunduk atau tegak.

Dan ketika kedaulatan disentuh oleh agresi, pilihan itu bukan lagi soal politik, ia menjadi soal kehormatan.Teheran mengguncang, bukan karena haus konflik. Ia mengguncang karena disentuh api. Ketika sebuah negara merdeka merasa wilayahnya dilanggar, martabatnya diinjak, dan eksistensinya ditekan, maka respons bukan lagi sekadar strategi militer, ia adalah bahasa harga diri.

Tel Aviv defensif pasif , artinya bukan sekadar karena tekanan serangan balik, tetapi karena realitas berubah, bahwa bangsa yang selama ini ditekan ternyata tidak diam.

Namun Islam tidak pernah membangun narasi di atas emosi liar. Islam membangun di atas keadilan. Dan keadilan dimulai dari satu prinsip, siapa yang memulai kezaliman?

Allah SWT. berfirman:
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan sungguh Allah Maha Kuasa menolong mereka.”(QS. Al-Hajj: 39)

Ayat ini bukan seruan agresi. Ia adalah legitimasi moral bagi yang diserang. Ketika kezaliman terjadi, pembelaan diri bukan pelanggaran , ia adalah hak.

Tetapi Allah memberi batas tegas:
وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(QS. Al-Baqarah: 190).

Inilah keseimbangan yang sering hilang dalam narasi global. Membela diri adalah kehormatan. Melampaui batas adalah kehinaan. Sejarah Islam sarat dengan pelajaran ini.

Umar bin Khattab RA. pernah menggetarkan dunia dengan kalimat:
متى استعبدتم الناس وقد ولدتهم أمهاتهم أحرارًا؟
“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

Kalimat itu bukan hanya kritik terhadap individu. Ia adalah deklarasi universal tentang kedaulatan dan kebebasan bangsa. Ketika sebuah negara merasa diperlakukan seolah tidak berhak menentukan nasibnya sendiri, maka perlawanan menjadi ekspresi eksistensi. Dan mempertahankan eksistensi bukan dosa.

Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
“Barang siapa terbunuh karena mempertahankan darahnya maka ia syahid, dan barang siapa terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka ia syahid.”(HR. Tirmidzi).

Hadits ini mengajarkan bahwa mempertahankan hak hidup adalah kemuliaan. Tetapi Rasulullah SAW. juga mengingatkan dalam setiap ekspedisi:
لا تقتلوا امرأةً ولا صبيًّا ولا شيخًا كبيرًا
“Jangan kalian membunuh wanita, anak kecil, dan orang tua renta.”
(HR. Abu Dawud)

Artinya jelas, bahwa kekuatan harus tetap bermoral. Maka ketika Teheran mengguncang, pertanyaannya bukan sekadar tentang rudal atau strategi. Pertanyaannya adalah, apakah ia berdiri dalam kerangka membela diri? Jika ya, maka itu adalah hak yang diakui syariat dan hukum internasional.

Namun jika siapa pun melampaui batas, maka ia jatuh pada larangan Ilahi.
Imam Ibn Taymiyyah berkata:
العدل أساس الملك
“Keadilan adalah fondasi tegaknya sebuah kekuasaan.”
Negara berdiri bukan karena kekuatan semata, tetapi karena legitimasi moral. Dan legitimasi moral lahir dari keadilan.

Di sinilah narasi “Teheran Mengguncang Garang, Tel Aviv Defensif Pasif” menemukan maknanya. Ia bukan sekadar gambaran militer. Ia adalah simbol perubahan psikologis, bahwa bangsa yang merasa ditekan ternyata mampu berdiri.

Namun dunia harus lebih cerdas dari sekadar tepuk tangan pada eskalasi. Yang harus dijaga adalah batas moral. Allah SWT. mengingatkan:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kalian merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kalian paling tinggi (derajatnya) jika kalian beriman.”(QS. Ali ‘Imran: 139).

Ayat ini bukan jaminan dominasi. Ia adalah suntikan harga diri. Bangsa yang bermartabat tidak mencari perang. Tetapi ia juga tidak menyerahkan kehormatannya. Ia berdiri, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk mengatakan bahwa kami ada, kami merdeka, dan kami tidak tunduk pada ketidakadilan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang paling kuat , tetapi siapa yang paling adil.
Dan harga diri bangsa yang berdiri di atas keadilan, tidak pernah benar-benar bisa ditundukkan.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏*MK*

*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Faqir. Munawir Kamaluddin*

Comments (0)
Add Comment