”NISFU SYA’BAN: Antara Langit yang Memaafkan dan Hati yang Enggan Berdamai”

132
Dengarkan Versi Suara

Oleh: Prof Dr H Munawir Kamaluddin MA MH ( Direktur Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial Ekonomi Nusantara/ LAPSENUSA)

Ada malam ketika langit terbuka lebar, tetapi bumi justru tertutup rapat. Ada waktu ketika rahmat Allah turun deras, namun hati manusia sibuk menahan dendam.

Nisfu Sya’ban adalah salah satu malam itu, malam ketika ampunan ditawarkan tanpa batas, tetapi hanya hati yang bersih yang mampu menjemputnya.

Di sinilah paradoks manusia bermula, langit memaafkan, tetapi hati enggan berdamai. Nisfu Sya’ban bukan sekadar tanggal di kalender hijriyah, melainkan momen spiritual yang mengguncang kesadaran. Ia bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi tentang keberanian batin untuk menata ulang relasi, dengan Allah dan dengan sesama manusia.

Malam ini seolah bertanya dengan lirih namun tegas, apakah engkau benar-benar ingin diampuni, atau hanya ingin terlihat saleh?
Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ، إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Sesungguhnya Allah melihat (makhluk-Nya) pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh hamba-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang menyimpan permusuhan.”(HR. Ibnu Mājah).

Hadis ini tidak menutup pintu ampunan karena dosa besar semata, tetapi karena penyakit hati sosial, syirik yang merusak tauhid, dan permusuhan yang merusak kemanusiaan. Seolah Allah menegaskan bahwa hubungan vertikal tanpa keberesan hubungan horizontal adalah ibadah yang pincang.

Menjemput ampunan di Nisfu Sya’ban berarti menata hubungan. Sebab dosa kepada Allah cukup dengan taubat, tetapi luka kepada manusia menuntut keberanian lebih, mengakui, memaafkan, dan berdamai. Inilah ibadah yang sering dihindari karena terlalu menyentuh ego.

Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
“Berlomba-lombalah menuju ampunan dari Tuhanmu.(QS. Ali-Imran: 133)

Para mufassir klasik seperti Al-Qurthubi menjelaskan bahwa “berlomba” bukan hanya dalam shalat dan puasa, tetapi juga dalam membersihkan hati dari hasad, dendam, dan kebencian. Karena hati yang kotor memperlambat langkah menuju ampunan.

Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:
أَفْسَدَ الْقُلُوبَ اثْنَانِ: حِقْدٌ دَفِينٌ، وَحَسَدٌ قَدِيمٌ
“Ada dua hal yang merusak hati: dendam yang tersembunyi dan iri yang dipelihara.”

Nisfu Sya’ban datang bukan untuk menghapus dosa secara otomatis, tetapi untuk menggugah kesadaran bahwa ampunan Allah memerlukan kesiapan batin. Langit boleh memaafkan, tetapi jika hati masih gemar menyimpan luka dan enggan berdamai, maka rahmat itu hanya akan lewat tanpa singgah.

Ali bin Abi Thalib RA. mengingatkan dengan sangat tajam:
أَشْجَعُ النَّاسِ مَنْ غَلَبَ هَوَاهُ
“Orang paling berani adalah yang mampu menaklukkan egonya.”

Memaafkan bukan tanda kalah, tetapi bukti kemenangan batin. Berdamai bukan kelemahan, melainkan kedewasaan spiritual. Dan Nisfu Sya’ban adalah madrasah sunyi untuk melatih keberanian itu, keberanian melepas dendam demi luasnya rahmat Allah.

Ibn Rajab Al-Hanbali menulis:
كَانَ السَّلَفُ يَرَوْنَ أَنَّ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ مَوْسِمٌ لِتَطْهِيرِ الْقُلُوبِ
“Para salaf memandang malam Nisfu Sya’ban sebagai musim penyucian hati.”

Maka, Nisfu Sya’ban bukan hanya tentang berapa rakaat yang kita tunaikan, tetapi tentang berapa banyak dendam yang kita kuburkan, berapa luka yang kita maafkan, dan berapa ego yang kita rendahkan.

Sebab ampunan Allah tidak turun pada hati yang masih sibuk menghakimi sesama. Jika langit sudah siap memaafkan, tidakkah sudah saatnya hati belajar berdamai?

#Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏*MK*

*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Faqir. Munawir Kamaluddin*