Oleh: Prof Dr H Munawir Kamaluddin MA MH ( Direktur Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial Ekonomi Nusantara/ LAPSENUSA)
Dalam perjalanan kehidupan manusia, ada satu hal yang sering terjadi tanpa disadari, yakni perubahan besar dalam masyarakat biasanya tidak dimulai dari peristiwa yang tampak besar, tetapi dari perubahan kecil yang terjadi di dalam diri manusia.
Ketika nilai kejujuran mulai dianggap biasa untuk dilanggar, ketika amanah tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab yang harus dijaga, dan ketika kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan bersama, maka pada saat itulah tanda-tanda kemerosotan moral mulai muncul.
Perubahan seperti ini sering terjadi secara perlahan. Ia tidak terasa pada awalnya, tetapi lama kelamaan menjadi kebiasaan yang mempengaruhi cara berpikir dan cara bertindak manusia.
Dalam ilmu sosial, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah deviant behavior, yaitu perilaku yang menyimpang dari norma, etika, dan nilai moral yang berlaku dalam masyarakat.
Penyimpangan perilaku tidak selalu berupa tindakan besar yang melanggar hukum. Ia sering muncul dalam bentuk yang sederhana tetapi berulang: ketidakjujuran yang dianggap hal biasa, janji yang tidak ditepati, tanggung jawab yang diabaikan, atau sikap acuh terhadap kepentingan orang lain.
Ketika hal-hal seperti ini terus terjadi, masyarakat perlahan kehilangan fondasi moral yang seharusnya menjadi penopang kehidupan bersama.
Al-Qur’an menggambarkan keadaan manusia ketika kesadaran moralnya mulai melemah dengan ungkapan yang sangat dalam:
وَلَٰكِن كَرِهَ اللَّهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ
“Namun Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, lalu Dia melemahkan mereka dan dikatakan kepada mereka: duduklah bersama orang-orang yang tinggal.”
(QS. At-Taubah: 46)
Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran penting, bahwa ketika seseorang terus mengabaikan kebenaran, kepekaan hatinya terhadap nilai-nilai kebaikan akan semakin melemah. Lama-kelamaan ia tidak lagi merasa terdorong untuk melakukan hal yang benar.
Di titik inilah penyimpangan perilaku mulai berkembang.Penyimpangan sebenarnya tidak selalu disebabkan oleh pengaruh lingkungan semata. Sering kali ia lahir dari ketidakmampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri.
Hawa nafsu menjadi pusat keputusan, sementara suara hati semakin jarang didengar. Al-Qur’an menyingkap kecenderungan ini dengan ungkapan yang sangat reflektif:
بَلْ يُرِيدُ الْإِنسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ
“Bahkan manusia itu ingin terus berbuat dosa di masa depannya.”
(QS. Al-Qiyamah: 5)
Ayat ini menggambarkan realitas batin manusia. Sering kali seseorang mengetahui bahwa suatu perbuatan itu salah, tetapi ia tetap melakukannya karena dorongan nafsu yang tidak terkendali.
Di tengah kondisi seperti ini, Ramadhan hadir dengan pesan yang sangat mendalam. Ia bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi madrasah pengendalian diri yang melatih manusia untuk kembali menata kehidupan moralnya.
Rasulullah SAW. pernah memberikan peringatan yang sangat menyentuh:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِن صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”(HR. Ahmad).
Hadits ini mengingatkan bahwa puasa tidak akan membawa perubahan jika hanya dilakukan secara lahiriah tanpa memperbaiki perilaku dan karakter. Puasa yang sejati bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk penyimpangan moral.
Karena itu Rasulullah SAW. juga bersabda:
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ
“Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berperilaku bodoh.”(HR. Bukhari)
Puasa mengajarkan bahwa pengendalian diri tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga menyangkut cara berbicara, cara bersikap, dan cara memperlakukan orang lain.
Sahabat Nabi, Abdullah bin Abbas, pernah mengatakan:
إِنَّ لِلْحَسَنَةِ ضِيَاءً فِي الْقَلْبِ وَنُورًا فِي الْوَجْهِ
وَإِنَّ لِلسَّيِّئَةِ ظُلْمَةً فِي الْقَلْبِ
“Sesungguhnya kebaikan memberikan cahaya dalam hati dan cahaya pada wajah, sedangkan dosa menimbulkan kegelapan dalam hati.”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa penyimpangan moral tidak hanya merusak kehidupan sosial, tetapi juga merusak ketenangan batin manusia itu sendiri.
Ulama besar Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan hubungan antara dosa dan kerusakan moral dengan sangat jelas:
المعاصي تُضعِفُ تعظيمَ الربِّ في القلب
“Dosa-dosa melemahkan pengagungan manusia kepada Tuhan dalam hatinya.”
Ketika rasa pengagungan kepada Allah melemah, manusia akan lebih mudah melanggar nilai-nilai kebenaran.
Karena itu Ramadhan sebenarnya bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan pemulihan kesadaran moral. Ia mengajarkan bahwa kebebasan sejati bukanlah mengikuti semua keinginan, melainkan kemampuan untuk mengendalikan diri.
Puasa melatih manusia menahan sesuatu yang sebenarnya halal demi ketaatan kepada Allah. Jika manusia mampu menahan yang halal, maka seharusnya ia lebih mampu menjauhi yang haram.
Di sinilah letak hikmah terdalam Ramadhan: ia tidak hanya mengajarkan manusia menahan lapar, tetapi juga mengajarkan manusia menahan dirinya dari penyimpangan perilaku. Dan mungkin inilah pelajaran paling penting dari puasa, dunia tidak rusak karena kekurangan orang pintar, tetapi karena kekurangan orang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Ketika manusia mampu menguasai dirinya, ia tidak hanya menyelamatkan dirinya dari penyimpangan moral, tetapi juga ikut menjaga kemuliaan masyarakat tempat ia hidup.
*Wallahu A’lqm Bish-Shawab🙏*Mk*
*Al-Fakir. Munawir Kamaluddin*
