”HUNI TANPA HARMONI: Ikhtiar Mengubah Rumah Kembali Menjadi Sumber Bahagia”

7
Dengarkan Versi Suara

Oleh: Prof Dr H Munawir Kamaluddin MA MH ( Direktur Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial Ekonomi Nusantara/ LAPSENUSA)

 

Ada rumah yang berdiri gagah di atas fondasi beton, namun rapuh di dalam karena fondasi hati yang retak.

Ada ruang tamu yang dipenuhi furnitur indah, tetapi kosong dari tawa dan kehangatan.

Ada dapur yang mengepulkan aroma masakan,namun tidak lagi menjadi tempat berbagi cerita,
sekadar ruang lewat bagi tubuh yang lelah, bukan jiwa yang ingin benar-
benar pulang.

Kita berada di zaman ketika teknologi mendekatkan jarak,
namun hati semakin saling menjauh.
Manusia lebih sibuk menyelamatkan baterai ponsel daripada menyelamatkan percakapan yang sekarat antara ayah, ibu, dan anak-anaknya sendiri.

Padahal Allah menciptakan rumah bukan sekadar tempat tidur di malam hari dan bangun di pagi hari,
melainkan tempat hati menemukan ketenangan yang sejati.
لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“…agar kalian mendapatkan ketenangan darinya.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Namun ketenangan tidak pernah datang dari dinding dan genteng,
ia lahir dari jiwa-jiwa yang hadir dengan sepenuh cinta, bukan hanya raga yang pulang, tapi hati yang ikut menapaki ambang pintu.

Banyak rumah kehilangan cahaya bukan karena kemiskinan, melainkan karena penghuninya lupamenyalakan pelita cinta.

Lupa bahwa kasih harus dirawat,
bahwa kata lembut harus dipilih,
dan bahwa kehadiran sejati jauh lebih bernilai daripada sekadar keberadaan fisik.

Rasulullah SAW mengingatkan: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِه
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”

Jika kita bisa tersenyum pada orang asing, mengapa keluarga sering menerima sisanya,kata yang kasar, waktu yang tersisa,dan perhatian yang terserak?

Rumah bukan ruang menumpahkan racun dunia,melainkan tempat membersihkannya.

Ia bukan gudang stres,
melainkan klinik penyembuh luka-luka jiwa. Ia bukan benteng ego yang kokoh,melainkan taman lembut di mana cinta berkembang dari kerendahan hati.

Sebab hubungan runtuh ketika setiap orang ingin menjadi pusat,
dan hidup kembali bila setiap jiwa bersedia melayani kebaikan bersama.

Allah mengingatkan:
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesungguhnya jiwa itu selalu mengajak kepada keburukan.”
(QS. Yusuf: 53).

Sebab itu, keluarga hanya bertahan jika penghuninya berjuang
melawan dirinya sendiri, melawan kesombongan untuk selalu merasa benar, melawan keinginan membalas luka dengan luka,melawan dorongan untuk lari dari masalah
ketimbang menyelesaikannya dengan cinta.

Dan di antara kunci itu semua, ada satu pilar agung, rumah yang bahagia adalah rumah yang di dalamnya hidup Al-Qur’an.

Rumah di mana ayat Allah dilantunkan, malaikat turun, syaitan minggat, dan ketenteraman berdiam pada setiap bilik.
Rasul bersabda:
إن البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة لا يدخله الشيطان
“Rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah, syaitan tidak memasukinya.”(HR. Tirmidzi).

Rumah menjadi taman surga ketika:
al-Qur’an dibaca bersama,zikir menjadi napas,doa menjadi tiang,
dan munajat menjadi cahaya malam.

Rumah menjadi benteng rahmat ketika anak-anak tumbuhmendengar ayat, bukan cacian, orang tua mengajarkan adab sebelum ilmu,
dan kejujuran dijaga seperti emas yang tidak boleh ternoda.

Rumah menjadi tempat paling aman di dunia ketika penghuninya
saling melindungi dalam kelemahan,
saling menguatkan dalam kelelahan,
saling mengasihi tanpa syarat dan tanpa dusta.

Umar bin Khattab berkata:
قُوا أَهْلِيكُمْ بِالْعِلْمِ وَالْأَدَبِ
“Peliharalah keluarga kalian dengan ilmu dan adab.”

Ilmu untuk menemukan hikmah,
adab untuk menghidupkan kasih.
Dan Rasul menegaskan:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Jika senyum pun bernilai ibadah,
betapa besar pahala dari pelukan lembut, kalimat terbaik, dan pengorbanan kecil yang kita tabur setiap hari.

Maka mari pulang bukan sekadar ke rumah dari batu dan kayu,
tetapi ke rumah dari cinta dan cahaya.

Rumah di mana hati berlabuh,
rasa aman tumbuh,dan Al-Qur’an menjadi imam bagi kehidupan.
Karena rumah yang penuh cinta
membuat dunia luar mudah dijalani, sedang rumah yang kosong dari zikir dan kasih menjadikan hidup terasa seperti berjalan tanpa perlindungan.
Kebahagiaan keluarga tidak jatuh dari langit.

Ia dibangun, dijaga, diperbaiki,
sering dengan air mata, kesabaran, dan pengorbanan. Namun buahnya menyejukkan, tempat pulang yang mengalirkan ketenangan, meneguhkan iman, dan menumbuhkan cinta yang tidak pernah habis.

Pada akhirnya, rumah yang bahagia bukan yang paling megah,tetapi yang paling hidup dengan cahaya Allah.

Dan keluarga yang harmonis
bukan yang tanpa masalah,
melainkan yang menghadapi semuanya bersama, dengan adab, kasih, dan ayat-ayat-Nya sebagai pelita.

Jadikan rumahmu surga kecil tempat jiwa pulang, bukan bangunan yang ingin ditinggalkan saat senja tiba.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏*MK*
*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Fakir.Munawir Kmaluddin*