Oleh: Prof Dr H Munawir Kamaluddin MA MH ( Direktur Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial Ekonomi Nusantara/ LAPSENUSA)
Ada subuan cerita yang lumayan menggelitik kesadararan spiritualitas kita tentang sebuah perusahaan besar di negeri jiran Malaysia.
Negeri yang dikenal mayoritas Muslim, agamis, dan religius.
Dinegeri tersebut digelar sebuah acara syukuran. Panggung ditata megah, undangan berdatangan dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat, profesional, akademisi, hingga tokoh masyarakat.
Rangkaian acara disusun rapi, mulai dari sambutan, doa, hiburan, dan pemaparan orasi sejumlah tokoh publik, samapi berbagai undian berhadiah yang bervariasi dan menarikpun turut memeriahkan acara.
Namun ada satu pesan kecil yang terasa janggal, bahkan mengusik. Panitia dengan sopan berpesan kepada ustadz yang ditunjuk membaca doa: “Ustadz, doanya jangan panjang-panjang ya. Doa terbaik itu yang singkat.”
Maka sang ustadz pun mempersingkat doanya sesuai pesan panitia. Sebuah proses cepat,praktis dan bahkan ada undangan yang masih angkat tangan namun doa keburu selesai ( sangking cepatnya doa dibacakan) oleh sang ustadz.
Anehnya, dalam acara yang sama, panitia dengan penuh antusias memberi panggung berjam-jam kepada seorang stand-up komedian terkenal, agamis, cerdas, dan keberulan memang lulusan madrasah.
Lawakannya segar, penuh sindiran sosial, sesekali diselipi ayat Al-Qur’an dan istilah agama. Tawa pecah, perut terkocok, aula bergemuruh oleh gelak yang tak putus-putus.
Ketika azan Zuhur terdengar sayup-sayup dari masjid terdekat(panggilan langit yang seharusnya menggetarkan bumi). sebagian besar hadirin tetap duduk, mata tertuju ke panggung, telinga sibuk menunggu punchline berikutnya.
Hanya segelintir yang berdiri dan melangkah menuju masjid. Menariknya, mayoritas dari mereka adalah kalangan akademisi.
Maka seorang di antara penonton berkomentar santai:
“Hidup ini harus realistis. Kita ini manusia, bukan malaikat, butuh hiburan, terlalu sering tegang dan penat dengan pekerjaan. Makanya lawakan itu penting dan manusiawi.”
Seorang akademisi menjawab lirih namun tegas: “Kami haus pencerahan, bukan sekadar hiburan. Apalagi ini sudah masuk waktu shalat. Bukankah shalat secara bahasa berarti doa?”
Seiring 2 pemandangan berbeda dari hadirin undangan itu,
Salah seorang diantara mereka berinisiatif bertanya kepada seorang ahli ilmu yang sangat disegani (diminta pendapatnya), ia hanya tersenyum dan berkata singkat: “Saya serba salah menjawab. Hanya saja Nabi SAW. pernah bersabda, jika engkau bingung dalam satu perkara, mintalah fatwa dari hatimu.”
Acara itu berakhir meriah, tetapi meninggalkan PR besar bagi nurani:
Benarkah doa terbaik adalah doa yang paling singkat, sementara lawakan terbaik adalah yang paling lama dan paling mengocok perut?
*Pertanyaan yang Tak Nyaman, Tapi Perlu Ditanyakan*
Apakah kita mulai alergi pada doa yang khusyuk, tetapi ketagihan pada tawa instan?
Apakah keseriusan iman kini terasa membosankan, sementara hiburan menjadi kebutuhan utama?
Apakah kita masih menjadikan Allah sebagai tujuan, atau sekadar pembuka acara sebelum panggung utama bernama hiburan?
Ataukah (tanpa sadar) kita telah memindahkan pusat gravitasi hidup, dari langit ke panggung?
Ataukah ini artinya dominasi syaitan dan hawa nafsu masih menghegimoni hidup dan perilaku kita?
Islam tidak pernah mengajarkan bahwa doa diukur dari panjangnya. Tetapi Islam juga tidak pernah mengajarkan doa diremehkan demi hiburan. Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.”(QS. Ghafir: 60)
Ayat ini bukan sekadar perintah, tetapi undangan mesra dari Tuhan kepada hamba-Nya. Doa adalah dialog, bukan gangguan acara.
Rasulullah SAW. bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa itu adalah inti ibadah.”(HR. at-Tirmidzi)
Jika doa adalah inti ibadah, lalu di mana posisi kita ketika doa justru dipercepat, sementara hiburan diperpanjang?
Lebih ironis lagi, ketika azan berkumandang (panggilan shalat yang secara bahasa berarti doa) sebagian kita memilih tetap duduk.
Padahal Allah SWT. mengingatkan:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.”(QS. an-Nisa’: 103)
Sayyidina ‘Umar bin al-Khaththab RA. berkata:
لَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ
“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”
Bukan karena shalat itu berat, tetapi karena hati telah terbiasa mencari kesenangan sebelum ketaatan.
Islam tidak anti tawa. Nabi SAW. tersenyum, bercanda, bahkan tertawa riang bahagia, namun tidak pernah membiarkan tawa mematikan kesadaran. Beliau bersabda:
لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُـمِيتُ الْقَلْبَ
“Jangan terlalu banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.”(HR. Ibnu Majah)
Imam al-Ghazali mengingatkan:
الْقَلْبُ إِذَا اشْتَغَلَ بِاللَّهْوِ ضَعُفَ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Jika hati sibuk dengan hiburan, ia akan lemah untuk mengingat Allah.”
Masalah kita bukan pada lawakan, tetapi ketika lawakan menggeser kesakralan. Ketika tawa lebih kita bela daripada doa. Ketika hiburan lebih kita hormati daripada panggilan shalat. Bahkan ketika tuntunan lebih rendah dari tontonan.
Rasulullah nabi dan panutan kita pernah bersabda:
اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ
“Mintalah fatwa pada hatimu, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu.”( HR. Ahmad).
Dan jika kita jujur bertanya pada hati kita hari ini (bukan pada logika pembenaran) mungkin hati akan berbisik pelan:
“Bukan doanya yang terlalu panjang, tetapi hatimu yang terlalu jauh.”
Karena itu, realitas potret zaman kita dewasa ini (dibeberapa bahagian) doa dianggap jeda, hiburan dianggap kebutuhan utama.
Bukan karena iman tidak ada, tetapi karena iman kalah bersuara oleh tawa instan.
Pertanyaannya kini bukan lagi, siapa yang benar?, melainkan ke mana arah hati kita sedang berjalan?
Karena ketika doa mulai terasa berat, dan tawa terasa lebih penting,
saat itulah kita perlu berhenti sejenak (bukan untuk tertawa lagi),
tetapi untuk mendengar suara qalbu yang hampir tak terdengar.
Dan mungkin, di sanalah jawabannya menunggu….
#Wallahu A’lam Bish-Shawab🙏*MK*
*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Fakir. Munawir Kamaluddin*
