Oleh : Prof Dr H Munawir Kamaluddin M.Ag ,MH ( Guru Besar UIN Alauddin Makassar)
Adakah tempat di dunia ini yang lebih aman daripada hati sendiri?
Pernahkah kita merasa hampa setelah berbicara terlalu banyak, dan menyesal setelah membagi sesuatu yang terlalu dalam kepada teman tersekat sekalipun?
Pernahkah kepercayaan berubah menjadi sesak karena berpindah tangan, dari satu mulut ke mulut lain, hingga cerita kita kehilangan kehormatannya?
Lalu, mengapa kita merasa harus selalu bercerita, padahal tidak semua luka butuh disuarakan,tidak semua rahasia harus dimengerti orang lain?
Inilah zaman ketika kata mudah dibuang ke angin, Ketika bahu tempat bersandar bisa saja menyebar rasa, Dan telinga yang mendengar bisa jadi adalah corong ke telinga lainnya.
Bahkan sahabat yang paling dekat, tetaplah manusia, punya dorongan untuk berbagi, dan tidak selalu mampu menjaga apa yang kita harap menjadi suci. Karena teman juga punya teman.
*Menjaga Diri dari Lisan: Jalan Orang-Orang Bijak*
Imam Asy-Syafi’i pernah berkata:
“صدرك وعاء سرك، فإن أذعته كنت أحق من غيرك بالخيانة.”
“Dadamu adalah wadah rahasiamu. Jika engkau membocorkannya, maka engkaulah yang paling layak dituduh mengkhianatinya.”
Dan Rasulullah SAW. mengajarkan:
مَنْ صَمَتَ نَجَا
“Barang siapa yang diam, ia akan selamat.”(HR. At-Tirmidzi)
Diam itu bukan hanya menahan kata, tapi juga menjaga kemuliaan. Karena rahasia adalah amanah bagi diri sendiri sebelum jadi amanah bagi orang lain.
Ketika kita membagikannya, maka kita menggantungkan nasib ketenangan kita kepada lidah orang lain yang tak kita kuasai.
Allah SWT. mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ”
“Tiada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
(QS. Qāf: 18)
Kata adalah senjata, ia bisa mengobati, bisa pula melukai. Kata adalah warisan, ia bisa menjadi pahala, bisa pula menjadi penyesalan abadi.
*Rahasia yang Tersembunyi Adalah Ketenangan yang Terjaga*
Ketahuilah, Bahwa salah satu bentuk ‘iffah (menjaga kehormatan) adalah menjaga rahasia sendiri.
Ketenangan bukan didapat dari menceritakan segalanya, Melainkan dari menjaga sebagian untuk hanya Allah yang tahu.
Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud berkata:
“ما ندمت على شيء ندمي على يوم غربت شمسه، نقص فيه أجلي، ولم يزد فيه عملي.”
“Aku tidak pernah menyesal terhadap sesuatu seperti penyesalanku pada hari yang berlalu, berkurangnya umurku, namun tidak bertambah amalanku.”
Namun hari ini, berapa banyak waktu habis karena kita merasa harus didengar?
Berapa banyak rahasia diumbar karena kita ingin dimengerti?
Berapa banyak luka semakin dalam, karena disebar dalam bentuk kata-kata yang tak layak diceritakan?
Padahal jika kita kembali pada fitrah keimanan, kita akan mengerti bahwa tidak semua beban butuh dipikul bersama manusia.
Ada beban yang hanya tenang jika kita letakkan di atas sajadah.
Ada cerita yang hanya menjadi damai jika dibisikkan dalam doa dan dititipkan melalui malaikat yang sudah pasti amanah.
*Menjaga Mulut adalah Menjaga Martabat*
Ali bin Abi Thalib pernah menasihati:
“السرُّ أسيرُك، فإن تكلمتَ به صِرتَ أسيرَه.”
“Rahasia adalah tawananmu. Tapi jika kamu mengungkapkannya, maka kamulah yang menjadi tawanannya.”
Betapa dalam maknanya, terkadang kita terjebak dalam kebutuhan untuk mengungkap, padahal yang paling kita butuhkan adalah menguat.
Sebab ada luka yang justru makin membengkak karena terlalu sering disentuh lewat cerita.
*Kembali kepada Allah, Bukan Kepada Semua Orang*
Dalam setiap keraguan dan kesedihan, ada tempat paling aman untuk kembali, Dialah Allah SWT.
Ia tak menyebarkan, tak menghina,
tak membocorkan. Doa adalah tempat cerita paling rahasia, dan air mata yang jatuh di malam sunyi adalah saksi keikhlasan terdalam.
“أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ”
“Siapakah yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan ketika ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?”
(QS. An-Naml: 62)
Maka simpanlah sebagian kisahmu untuk sujud. Jangan terlalu murah menukar rahasiamu demi pengakuan.
Dan jangan terlalu cepat berbagi, sebelum kau benar-benar mengenal siapa yang menerima.
*Diam yang Menyelamatkan, Kata yang Mencerahkan*
Belajarlah dari embun yang jatuh tanpa suara, Tapi membawa kesejukan bagi pagi hari.
Jadilah seperti cahaya yang diam tapi menerangi, Bukan seperti nyala yang ramai tapi membakar.
Menjaga kerahasiaan bukan bentuk kelemahan. Itu adalah cara paling elegan menjaga kehormatan diri.
Karena tak semua yang kita tahu, harus dikabarkan. Dan tak semua yang terasa, harus diucapkan.
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka karena itu , sebagai manusia yang memiliki banyak kelamemahn dan kekurangan , perlu terus bermunajat dan memohon kepada Sang Khalik dan Penguasa alam jagad dalam sebuah pengaduan dan do’a:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْحَلِيمِينَ، وَمِنَ الْحُكَمَاءِ، وَمِنَ الْكَاتِمِينَ لِمَا يُؤْذِي نُفُوسَنَا، وَافْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ كُلِّ شَكٍّ بِرَحْمَتِكَ. آمِينَ.
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang penyabar, bijak, dan mampu menyimpan apa yang menyakiti kami, serta bukakanlah jalan-jalan cahaya di tengah keraguan dan keresahan kami. Amin.”
-#Wallahu A’lam Bis-Sawab🙏*MK*
*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Fakir. Munawir Kamaluddin*w
