Hindari Konflik Berlanjut, Ketua DPRD Konawe Ajak Masyarakat Tidak Terprovokasi Isu SARA

121
Dengarkan Versi Suara

RAIJurnal.com, KONAWE – Kabupaten Konawe yang bertransformasi menjadi kawasan industri di Sulawesi Tenggara menjadi problematika di kalangan masyarakat, yang mana selalu menjadi konflik antara PT VDNI, PT OSS  dan masyarakat lokal.

Hal itu membuat kekhawatiran warga lokal akan bahayanya jika terjadi konflik berkepanjangan karena keberadaan mereka bisa menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat yang diakibatkan karena warga lokal masih banyak yang belum memiliki pekerjaan.

Selain itu, Kabupaten Konawe juga sebagai wilayah yang dihuni masyarakat majemuk, memiliki potensi terjadinya konflik yang berbau SARA.

Untuk itu, Ketua DPRD Konawe, Ardin mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi. Terutama isu-isu sesat dari pihak yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi untuk mengganggu stabilitas keamanan.

“Mari kita menjaga ketertiban dan keamanan di Konawe, jangan lagi ada konflik suku, konflik agama, isu SARA  dan  lain sebagainya. Sehingga daerah ini kondusif. Dengan kondusifnya daerah ini saya yakin pembangunan bisa jalan dan bangkit dari pandemi Covid-19,” ujarnya, Ahad (26/4/2021).

Menurut Ardin, aset paling utama pertumbuhan ekonomi ditentukan stabilitas kemananan di daerah tersebut.

“Sebagai anak bangsa, kita semua bersaudara, kita harus tetap menjaga keamanan dan ketertiban di mana saja kita berada, baik itu di Konawe maupun di daerah lain dalam bingkai NKRI,” ucapnya.

Sekadar diketahui, Senin 14 Desember 2020, terjadi demonstrasi yang diikuti ribuan buruh di PT VDNI yang berakhir bentrok. Massa dengan aparat keamanan saling serang menggunakan batu dan balok.

Massa yang berhasil masuk ke dalam area perusahaan meluapkan amarah dengan melakukan pembakaran gedung pabrik smelter serta puluhan dump truck dan alat berat yang terparkir di area perusahaan tersebut.

Selain itu pada 13 Maret 2021, ratusan orang menyerbu masuk dalam areal Polres Konawe. Mereka terlihat berpakaian hitam-hitam, menerobos pintu gerbang dan membawa parang dan bendera.

Massa yang berjumlah ratusan orang, sempat menduduki area Polres.
Pemicu awal massa masuk di Polres Konawe, terkait Informasi polisi telah menangkap sembilan orang usai mereka diduga datang dan membakar rumah. Kejadian ini, menyebabkan seorang warga bernama Sattu (64) meninggal dunia.

Tak hanya itu, Senin 5 April 2021, massa yang tergabung dalam Ormas Tamalaki Banderano Tolaki Sultra menggelar aksi demonstrasi di PT VDNI dan PT OSS.

Ratusan massa itu menuntut janji Mr. Tony 14 Desember 2020 lalu, bahwa Ia akan merekrut anggota Ormas Tolaki yang ikut membantu mengamankan perusahaan dengan diposisikan sebagai keamanan.

Tak hanya itu, massa juga menuntut agar segera memecat Site HRD Manager, Ahmad Zaekusen dan juga Asisten HRD, Haris dan Staff Rekruitmen, Dhea karena diduga telah menipu atau memuat permohonan palsu kepada Pemkab Konawe terkait permohonan staf keamanan.

Ardin kembali memberikan seruan moral kepada seluruh elemen masyarakat untuk membantu menciptakan stabilitas keamanan di lingkungan masyarakat dan tak terpancing isu suku, agama, ras dan antar golongan atau SARA.

“Elemen masyarakat memiliki peran sentral dalam merawat, menjaga, stabilitas keamanan di lingkungan masyarakat. Olehnya itu mari kita bersama sama menjaga keamanan dan ketertiban di mana saja kita berada dan tidak mudah terpancing isu SARA,” kata Ardin.